Sore
hari mulai berlalu seiring aku membaca buku yang sekali lagi berceritakan mengenai
bajak laut. Menjadi kapten bajak laut adalah mimpiku, mengarungi ketujuh
samudra dan mengalahkan monster laut adalah keinginanku sewaktu aku masih
kecil. Ayahku dulu adalah seorang bajak laut yang hebat, ia mengorbankan
dirinya untuk menyelamatkan kota Linserd ini. Dulu, kota ini pernah diserang
oleh Hydra, binatang yang sangat besar dan buas. Ayahku yang bernama Veritas
rela dibawa oleh Hydra. Dari saat itu ayahku menghilang dibawa oleh ombak.
Namaku
Lenn dan aku tinggal bersama ibuku dan teman baikku dari kecil yang bernama
Rinn. Orang tua Rinn sudah tidak ada sejak Rinn masih kecil. Rinn di asuh oleh
paman Roy yang adalah seorang pandai besi yang hebat. Ibuku telah jatuh sakit
beberapa bulan terakhir ini. banyak orang yang bilang kalau ibuku sudah dikutuk
oleh Calypso, yang juga disebut penyihir lautan.
Aku
tidak tega melihat ibuku tergolek lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa. Aku
berjanji akan menemukan obat yang bisa menyembuhkan ibuku, dan juga akan
menemukan Veritas, ayahku yang hilang dilautan sana. Paman Lycca yang adalah
adik ibuku bertanggung jawab akan kelangsungan hidup kita. Dia menjadi seorang
bajak laut untuk menafkahi kita semua. Paman Lycca juga berjanji kalau dia akan
membawa aku dan Rinn mengarungi samudera untuk menyembuhkan ibuku.
“Paman,
masih ingat kan dengan janji yang pernah paman buat? Aku ingin Cepat-cepat
berlayar, aku ingin ibuku sembuh, aku ingin menjadi seorang kapten bajak laut
yang hebat” kata ku kepada paman Lycca
“Baiklah
Lenn, karena kegigihan dan dedikasi yang sudah kamu tunjukkan. Besok kita akan
berlayar, ajak Rinn juga. Kita membutuhkan orang yang bisa menyembuhkan orang
yang terluka” jawab Paman Lycca.
Desa
Linserd adalah desa yang kecil dan sederhana, kami semua sudah diajar untuk
bertahan dari kecil. Ada beberapa menjadi ksatria yang hebat dalam pertarungan
jarak dekta, ada juga yang menjadi penyihir dan menggunakan kekuatan sihir
untuk menyerang musuh, ataupun menyembuhkan teman kita, ada juga orang yang
hebat dengan panah atau senjata jarak jauh.
Aku dan paman Lycca menjadi seorang ksatria
atau yang biasa disebut Guardian. Guardian biasanya mempunyai pasangan
tersendiri, dan tugas Guardian adalah menjaga pasangannya dan selalu disamping
dia. Penyihir di desa Linserd biasa disebut sebagai Siren, Rinn adalah salah
satu Siren yang ada di desa kita.
Hari
yang ditunggu sudah tiba, aku dan Rinn sudah siap-siap dari subuh untuk
mengikuti paman Lycca mengarungi lautan. Disaat aku dan Rinn berjalan ke
pelabuhan, kami berbincang-bincang untuk menghilangkan kesunyian.
“Lenn,
apakah kamu yakin ibumu akan baik-baik saja?” tanya Rinn
“Tentu
Rinn, ibuku sudah dijaga oleh paman Roy dan keluarganya. Dia akan baik-baik
saja, lagipula aku akan menemukan obat untuk menyembuhkan ibuku,” jawabku.
Rinn
terdiam dan dirinya agak gelisah, mukanya sedikit aneh dari biasanya. Dia
terlihat sangat gugup.
“Rinn,
kamu kenapa?” tanyaku penasaran, “ada yang salah Rinn? Kamu sakit” lanjutku.
“Tidak
Lenn, aku hanya sedikit takut dalam perjalanan ini. Ini adalah pertama kalinya
aku berjalan denganmu, dan juga pertama kalinya menjadi Siren. Makanya aku agak
gugup” jawab Rinn
Aku
hanya tertawa melihat jawaban Rinn dan melanjuti perjalananku menuju pelabuhan
Linserd. Butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan dari rumah aku menuju pelabuhan
Linserd. Saat aku dan Rinn sudah sampai ke pelabuhan, terlihat paman Lycca yang
gagah dengan binatang peliharaannya yang sangat pintar.
“Hei
kalian! Cepat datang kesini! Kita harus melabuh secepatnya!” teriak paman Lycca
dengan suara yang seram. Terlihat juga dibelakangnya, sudah berdiri kapal
kesayangan paman Lycca yang bernama Black Dragon itu, serta awak kapal yang
sangat setia kepada paman Lycca.
“Wow!
Keren sekali kapal ini” kata Rinn dengan wajah yang terkejut.
“Haha!
Iya Rinn, kapal ini sudah menjadi legenda” jawabku.
“Hei
anak kecil! Jangan melamun saja! Bantu kami melabuhkan perahu ini” teriak salah
satu anak buah kepercayaan paman Lycca yang bernama Zell.
“Baik
paman!” jawab Rinn dan aku serentak sambil membantu paman Zell bersiap-siap
untuk berlayar.
Awak
kapal paman Lycca biasa dipanggil sebagai Black Guardian, yang terlihat seram
diluar padahal mereka baik hati dan suka menolong orang lain. Black Dragon dulu
adalah awak kapal Kapten Veritas, ayahku yang sudah lama menghilang. Semenjak
ayah sudah tidak ada, Black Dragon dan Black Guardian dipegang oleh paman
Lycca.
Diatas
layar terlihat seorang pemanah yang handal, melihat sekelilingnya dengan
ditemani binatangnya. Anggota paman Lycca yang menggunakan panah, yang sangat
handal dalam kelincahan dan juga tembakan panah yang akurat dan kuat itu, Arch
namanya. Awak kapal kepercayaan paman Lycca yang kedua.
Sudah
waktunya kapal Black Dragon berlayar, mengarungi 7 samudera, melawan semua
monster laut dan kembali membawa kebanggaan bagi kota Linserd, juga
menyembuhkan ibuku. Tak terasa malam sudah tiba saat kami berlayar, aku pun
pergi keluar kamar tidurku untuk mencari udara segar.
“Tidak
peduli apapun yang terjadi, ibuku harus sembuh. Aku akan kembali membawa obat
untuk menyembuhkan ibuku” gumamku saat melihat langit yang dipenuhi dengan
bintang.
“Lenn,
apa yang kamu lakukan?” tanya Rinn.
“Iya
Rinn, aku hanya melihat bintang-bintang disini. Ada apa Rinn?” tanyaku.
“Tidak
apa-apa, aku hanya tidak bisa tidur. Boleh duduk bersamamu?” kata Rinn dengan
muka yang memerah.
“Tentu
Rinn.” Jawabku sambil bergeser sedikit untuk memberikan tempat Rinn untuk
duduk. “Bagaimana perasaanmu Rinn? Gugup? Atau senang?” Tanyaku.
“Kalau
boleh jujur, aku takut Lenn. Kehidupan bajak laut sangat keras, aku takut aku
tidak bisa bertahan. Aku takut kalau nanti aku tidak bisa apa-apa, dan
merugikan kalian semua” jawab Rinn dengan muka yang sedikit gugup.
“Tenang
saja, kamu tidak sendirian Rinn. Awak kapal Black Dragon selalu menjaga sesama
awak kapal lainnya. Lagipula paman Lycca selalu melindungi kita semua. Paman
Lycca juga sudah pernah bilang, Guardian harus menjaga pasangan Siren yang dia
miliki. Berarti aku harus menjaga kamu Rinn, dan aku janji kamu tidak akan
terluka. aku berjanji akan selalu menjaga kamu,” jawabku.
Rinn hanya tertawa dan merasa lega
dengan perkataanku tadi. Mulai hari itu, aku sudah berjanji kalau Rinn tidak
akan tersakiti, aku sudah berjanji kalau Rinn akan selamat dan tidak terluka.
Banyak tempat baru yang sudah dilewati oleh kami semua, namun kami tidak bisa
menemukan apa-apa. Sampai pada akhirnya kita menemukan sebuah pulau yang
terpencil, ditutupi oleh kabut yang tebal dan juga tebing yang curam.
“Semuanya!
Turunkan jangkar! Kita masuk ke pulau itu!” teriak paman Lycca dengan penuh
semangat. Seketika itu juga awak kapal bergerak dengan cepat dan menurunkan
jangkar.
“Rinn,
jangan pergi jauh-jauh dariku. Tempat ini tampak berbahaya” kataku. Rinn hanya
menganggukkan kepalanya.
Setengah
dari awak kapal Black Dragon turun ke pulau itu, setengahnya lagi menjaga
diatas kapal. Dengan perahu yang kecil, kami semua beranjak dari Black Dragon
mendekat kepulau misterius itu. Pulau itu sangatlah unik, mereka pulai itu
serasa terisolasi dan hanya gua kecil yang menjadi jalan masuk ketempat yang
lebih dalam dari pulau itu.
“Tunggu
sebentar!!” Teriak paman Lycca sambil melihat-lihat sekeliling gua itu.
“Kapten
Lycca, kita tidak bisa masuk kesana. Itu terlalu berbahaya!” teriak salah satu
awak kapal paman Lycca
“Cih!
Kalian payah! Hanya dengan gua kecil ini kalian sudah takut? Kalian tidak
pantas menjadi bajak laut!” teriak paman Zell yang memang lebih kuat dari awak
kapal lainnya
“Apa
kamu bilang?!” teriak awak kapal lainnya yang merasa direndahkan.
Seketika
itu juga terjadi pertengkaran kecil antara paman Zell dengan awak kapal yang
tidak terima oleh perkataan paman Zell.
“Jangan
sombong dulu kamu Zell, kamu tidak bisa apa-apa tanpa kita” teriak salah satu
awak kapal Black Dragon.
*
Bruukkk *
Tiba-tiba paman Zell mengangkat dan mendorong
awak kapal yang berbicara tadi sampai terjatuh. Paman Zell pun mengambil
senjata pedangnya dan menaruhnya dileher awak kapal yang terjatuh itu.
“Kalau kamu bukan awak
kapal Black Dragon, sudah kuputuskan lehermu itu “ kata paman Zell dengan mata
yang melihat sangat tajam
“Lepaskan dia Zell, atau
panah ini akan menembus lehermu” kata Arch sambil menodong panah miliknya.
Semuanya terdiam melihat
itu semua, tidak ada suara satupun. Situasi ini sudah mulai mencekam, aku dan
Rinn hanya bisa terdiam. Namun paman Lycca tertawa terbahak-bahak.
“Sudah Zell, hentikan!
Jangan berkelahi” teriak paman Lycca sambil tertawa kecil. Paman Zell
mengangkat kapaknya dan menyandarkan kapak miliknya dibahu dia.
“Ayo semuanya! Kita
bergerak” teriak paman Lycca memerintah anak buah miliknya.
Paman Zell akhirnya
melepaskan awak kapal yang lainnya dan akhirnya dia tiba-tiba melihat kearah
Rinn dengan muka yang sedikit kaget. Aku dan Rinn mulai sedikit heran melihat
paman Zell.
“Kita harus berhati-hati
memasuki gua ini, jangan pernah pergi sendirian. Selalu pergi bersama-sama!
Ingat itu!” teriak paman Lycca.
Sudah berjam-jam kita
menjelajahi gua ini dan sudah banyak monster-monster yang kita kalahkan. Situasi
semakin mencekam karena gua ini semakin gelap, dan juga kami semua merasakan
ada yang membayang-bayangi kami.
“Kapten Lycca, kami
butuh istirahat, kami sudah tidak bisa berjalan lagi” salah satu awak kapal
mengeluh.
Seketika itu juga paman
Lycca menyuruh awak kapal beristirahat. Rinn yang sudah sangat pucat mukanya
akhirnya duduk dan bersender disebuah batu didalam gua itu.
“Paman Lycca, apakah
paman tidak sadar ada yang mengikuti kita?” tanya aku heran kepada paman Lycca.
“Tentu Lenn, kita semua
sudah tahu hal itu. Namun sekarang bukan saat yang tepat untuk membicarakan
itu, kita masih belum tahu apa atau siapa yang terus mengikuti kita” bisik
paman Lycca kepadaku.
Ternyata awak kapal
Black Dragon sudah tahu akan hal itu dan bersikap untuk tidak tahu dan
memancing sosok yang mengikuti kita terus. Setelah istirahat 30 menit, kita pun
melanjutkan perjalanan. Kejadian selanjutnya benar-benar diluar dugaan kami
semua.
Kami semua mulai
merasakan gempa yang sangat hebat selama 5 menit. Awak kapal Black Dragon panik
semua, dan ketakutan. Lalu gempa yang dahsyat itu berhenti dan semua menjadi
tenang. Saat kami ingin melanjutkan perjalanan, tiba-tiba lantai dimana aku,
paman Zell, dan Rinn terbelah dan kami jatuh kedalam lubang itu.
“Lenn!!” teriak paman
Lycca saat ingin meraih tanganku.
“AAARRRRGGGHHH !!” kami
bertiga berteriak ketakutan sambil merosot jatuh kedalam gua yang lebih dalam.
* Bruuk *
Kami pun sampai didasar
lubang itu, paman Zell dengan cepat berteriak “kapten! Kami tidak apa-apa,
teruslah berjalan, temukan kami semua”.
“Untunglah kita tidak
mati yah, hehe” kataku sambil tertawa kecil.
“Lenn! Lenn!” teriak
Rinn dengan nada yang hampir menangis. “Aku takut Lenn!” kata Rinn dengan muka
yang sedikit lagi hampir menangis.
“Rinn, tenanglah. Kita
masih hidup, dan aku akan menjagamu sampai perjalanan ini selesai, jangan
menangis” kataku mencoba menenangkan Rinn yang sepertinya masih kaget akan
kejadian yang baru kita lalui.
Aku pun memeluk Rinn dan
mencoba menenangkan dirinya yang sepertinya trauma.
“Hei anak kecil!
Cepatlah, kita harus berjalan menemui paman Lycca. Jangan cengeng!” kata paman
Zell
Rinn pun berdiri,
berkata kalau dirinya tidak apa-apa dan kita melanjutkan perjalanan untuk
menemui paman Lycca. Berjam-jam sudah berlalu dan kami tidak menemukan jalan
untuk keluar dari dasar gua ini. Banyak gempa-gempa yang kita alami dan tidak
henti-hentinya monster terus datang.
* Woosh *
Tiba-tiba sosok yang terus mengikuti kita
daritadi berada dihadapan kita bertiga. Paman Zell langsung mengambil pedangnya
dan menyerang sosok bayangan itu.
“Gyaaahh!!” teriak paman
Zell
Namun sosok misterius
itu menusuk pedangnya yang masih ditutupi oleh sarung pedang kearah perut paman
Zell, sampai akhirnya paman Zell tidak sadarkan diri.
“Paman Zell yang
sebegitu besarnya bisa dikalahkan dengan satu gerakan, pria ini pasti akan
membunuh kita” kata Rinn ketakutan.
Walau aku juga takut,
aku harus menepati janjiku, aku akan melindungi Rinn.
“Rinn, mundur. Akan
kulawan dia” kataku mencoba menyingkirkan Rinn.
“Hei Lenn. Lama tidak
berjumpa yah?” kata sosok misterius itu.
“Siapa kau?! Darimana
kamu tahu namaku?” tanyaku dengan heran.
Pria itu lalu membuka
topeng yang dia pakai dan kami terhentak kaget melihat muka pria itu. Dia pun
bilang kalau dia terus mengikuti mereka, seketika itu juga dia pun menghilang,
seperti bayangan.
Paman Zell pun bangun
dan bertanya-tanya kemana pria bertopeng itu pergi. Aku dan Rinn menjawab kalau
dia sudah pergi. Kami pun meneruskan perjalanan sampai akhirnya kami bisa
bertemu kembali dengan paman Lycca.
“Syukurlah kalian tidak
apa-apa!” kata paman Lycca dengan lega.
“Kapten, kita bertemu
sosok misterius itu dan dia berhasil menhajarku sampai pingsan. Tapi kedua anak
ini tidak apa-apa” kata paman Zell memberikan laporan.
“Untung kamu tidak
dibunuh Zell” kata paman Arch dengan nada yang sedikit meledek.
“Bagus, selama kalian
berpisah dengan kita semua, aku mendapatkan beberapa informasi. Gua ini adalah
gua dimana Calypso dan Kraken berada. Ini berarti obat yang kamu cari ada
didalam gua ini, kita hanya perlu mencari lebih dalam” kata paman Lycca
menceritakan semuanya.
Kami pun melanjutkan
perjalanan kami sampai akhirnya gempa yang sangat dahsyat menjatuhkan kami
semua ketempat yang dipenuhi dengan air. Air menggenangi sampai lutut kami
semua, dan didepan kita, monster yang melegenda, Kraken.
“Semuanya! Bersiap untuk
perang!” teriak paman Lycca
Kraken tidak sendirian,
dia sudah mempunyai pasukan-pasukan yang sepertinya dipanggil oleh Calypso.
Semua sudah siap bertempur, pedang, panah, tameng, tongkat, semuanya sudah
disiapkan untuk berperang melawan pasukan Calypso.
“Arch, ambil semua
pasukan dan lawan pasukan-pasukan kecil itu, cepat! Zell, ikut aku. Kita akan
makan sea food malam ini” perintah paman Lycca. “Lenn, Rinn
bantu Arch dan tolong, jangan terbunuh” lanjut paman Lycca.
Pertempuran pun dimulai
semua awak kapal Black Dragon mengeluarkan semua tenaga yang mereka miliki
untuk membunuh Kraken, namun usaha mereka tetap sia-sia. Sampai akhirnya sosok
misterius yang tadi datang dan membantu kami semua.
“Ayah! Kau datang!”
teriakku dengan muka yang bahagia.
“Tentu saja Lenn” kata
ayahku dengan nada yang santai.
Ya benar, sosok
misterius yang terus mengikuti kami semua, sosok misterius yang menghajar paman
Zell dengan satu pukulan, tidak salah adalah ayahku, Veritas. Sang legenda.
“Cih Veritas! Sudah lama
tidak bertarung bersama kan?” kata paman Lycca.
“Haha, sudah saatnya
kapal Black Dragon kau kembalikan Cca” kata ayahku.
“Kapten Veritas! Kita
harus menemukan Calypso! Apa yang harus kita lakukan
kapten Veritas?!” teriak paman Zell.
Dengan cepat moral awak
kapal Black Dragon naik mengetahui kalau legenda yang pernah hilang, datang
kembali.
“Baiklah! Zell, Arch,
dan pasukan yang lain hajar pasukan Calypso! Lycca, kita akan makan sea food sekarang, hajar Kraken!
Lenn dan Rinn, cari Calypso dan ambil hati Calypso, itu akan menyembuhkan
ibumu, jangan lupa bawa ini Lenn” perintah ayahku sambil memberikan pedang
miliknya dan juga gelang yang menunjukkan bahwa aku sudah menjadi wakil kapten
dari Black Dragon.
“Baik
ayah” kataku.
“Oke
Kapten!” kata paman Zell dan paman Arch.
“Sea food, Sea food!” kata paman Lycca
dengan muka yang menantang.
Pertarungan
kembali dimulai, aku dan Rinn berlari untuk menghindari Kraken dan menemukan
Calypso.
“Rinn!
Cepat ayo! Kita tidak boleh lama-lama, mereka membutuhkan bantuan kita!”
teriakku sambil menarik tangan Rinn.
Rinn
berlari dengan cepat dengan muka yang bergairah, berbeda dengan muka Rinn yang
pernah ku temui. Ruangan demi ruangan yang ada didalam gua kami masuki untuk
menemui Calypso. Sampai akhirnya kami menemukan sebuah ruangan yang dijaga oleh
sebuah monster besar yang bernama Krakto, monster berwujud babi yang berdiri,
menggunakan tameng dan juga pedang.
“Baiklah
Rinn, aku akan menghancurkan tamengnya. Jika tameng Krakto sudah hancur,
gunakan lightning bolt untuk menghancurkan dia” perintahku kepada
Rinn.
“Oke
kapten Lenn!” kata Rinn sambil sedikit tertawa.
“Calypso!
Cukup sudah kau hidup didunia ini!” teriak ku sambil berlari menyerang Calypso
dan melumpuhkan tameng yang dimilikinya.
“Rinn!
Sekarang!” teriakku memberikan aba-aba kepada Rinn.
“Lightning Bolt!” teriak Rinn sambil
petir menyambar dan melumpuhkan Calypso yang menjadi tidak berdaya.
“Hyaaahh!!”
teriakku sambil menusukkan pedang ayahku kedalam hati Calypso dan menarik
hatinya keluar. Segera setelah hati Calypso keluar, aku menaruhnya didalam
sebuah kotak.
Aku
dan Rinn pun berlari kearah ayahku dan anggota Black Dragon yang lainnya. Gua
mulai bergetar dengan hebatnya, sepertinya akan roboh.
“Black
Guardian! Cepat keluar dari gua ini! Akan kutahan monster ini” jawab ayahku
yang gagah berani menghadapi Kraken.
“Hei
kalian! Cepat keluar dari gua ini! Ikuti aku!” teriak paman Zell yang memimpin
anggota Black Dragon keluar dari gua ini.
“Tapi
ayah? Ibu ingin melihat ayah, aku ingin keluarga kita lengkap! Ayah harus
ikut!” teriakku dengan suara yang sedikit kecewa.
“Ingat
Lenn, ayah akan selalu bersama dirimu. Ayah tidak akan pergi jauh Lenn” jawab
ayah sambil menenangkan diriku.
“Tapi
ayah…..” pembicaraanku dipotong oleh Rinn yang menarik-narik bajuku.
“Tenang
Lenn, ayahmu akan terus aku jaga. Sebagai gantinya, tolong jaga adikku yah
Lenn” lanjut paman Lycca.
“Ayah….
Paman Lycca…. Aku sayang kalian, jangan pernah menghilang dari ingatanku,
kalian adalah pahlawan-pahlawanku” jawabku sambil menutup mata dan berlari
keluar dari gua yang gelap itu.
Semuanya
sudah berakhir, ibuku sudah sembuh. Rinn menjadi seseorang yang penting didalam
hidupku, dia menjadi Siren sekaligus pacar bagi diriku. Aku menjadi kapten dari
kapal Black Dragon, paman Zell dan paman Arch terus mendukungku. Paman Lycca
dan juga ayahku, walau mereka sudah tidak ada, namun mereka terus ada didalam hati
kita semua, hati penduduk Linserd.
“Sayang,
kita harus pergi sekarang. Kamu kapten sekarang” teriak Rinn memanggilku.
“Ibu,
aku akan pergi sebentar. Jaga dirimu yah, aku akan segera pulang” jawabku
mengucapkan kata-kata perpisahan.
Ibuku
hanya mengangguk-ngangguk dan memberikan sebuah liontin emas, perhiasan kawin
miliknya dan ayah.
Seiring
aku keluar dari rumah, paman Zell dan Rinn sudah menungguku. Dari kejauhan
penjual koran sudah berteriak-teriak.
“DUA
SOSOK MISTERIUS SUDAH MENOLONG NELAYAN-NELAYAN!”